April
(Semesta rasa akan lebih mendukung dengan mendengarkan lagu April-Fiersa Besari)
Rindu...
Rindu yang selalu bertumpu pada waktu, mengisahkan rasa dalam semilir kehidupan kita tanpa ragu, tanpa jemu. Semua berlalu lalang seperti kendaraan-kendaraan di jalanan, lalu pergi ke mana mereka hendak sampai ke tujuan. Memori-memori tertancap penuh dalam pikiran, dan rupanya mereka enggan untuk kuhapuskan. Tentangmu April, semesta mendukung jiwa kita saling terikat. Saling menguat.
April, Aprilku tercinta...
Kukisahkan padamu bagaimana hari-hariku di sini tanpamu. Bagaimana mungkin kamu selalu hadir dalam pikiranku, bermain-main di dalam mataku. Aprilku, kasihku, setiap sapuan langit dan awan-awan yang menghempaskan warnanya, mengukirkan wajahmu. Terbentuk cantik oleh awan dan nuansa biru, lalu dikelilingi burung-burung camar yang saling bercuitan terbang kesana kemari. Ah, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat itu. Satu hal yang pasti, aku merindukanmu.
Kita saling berjauhan, dengan kesibukan kita masing-masing. Kita tak seperti pasangan kekasih lainnya yang setiap detik, menit, dan jamnya harus terus saling mengabari. Aku tahu, kamu pun tahu, kita akan tetap saling menjaga hati satu sama lain. Barangkali, kurang lebih satu tahun kita tak bertemu. Bagaimana kabarmu? Sedang apa sekarang? Apakah dirimu juga merindukanku? Lagi-lagi sinyal handphone yang selalu buruk menyulitkanku untuk memberi kabar padamu. Mungkin inilah satu-satunya alasan mengapa kita jarang berbalas pesan maupun sekedar untuk video call-an. Kamu pun mengerti bagaimana disini, haha. Maafkan aku April, jangan cubiti aku ketika bertemu nanti. Dengan alasan: aku yang jarang menghubungimu. Jangan marah jangan cemberut. Aku mohon.
April yang manis...
Beberapa hari yang lalu pesan WhatsApp darimu telah masuk ke handphone ku, melalui jalan dan jalur terjal yang teramat sulit mencari penghubung. Aku membayangkan bagaimana bila pesan itu dapat berbicara, mungkin dia telah memakiku habis-habisan gara-gara sinyal yang begini macam, "tempat macam apa ini, sulit sekali aku masuk dalam handphone mu," dan mungkin seketika aku akan tertawa kecil mendengar semua celotehannya. Dari pesanmu itu bertuliskan,
"Mas, bulan April nanti kita ketemu di tempat biasa ya. Udah lama aku nggak ketemu sama kamu. Jangan lupa, Mas."
Kamu tahu betapa girangnya aku saat itu, seperti anak kecil yang baru dibelikan ice cream oleh orang tuanya, lengkap dengan lumeran yang belepotan di mulut. Sekali lagi maafkan keadaanku ini, mungkin kamu juga sedikit menggerutu ya...karena menunggu balasan pesan dariku. Aku bisa membayangkan wajahmu bila seperti itu, dengan pipimu yang sedikit kamu kembungkan dan dengan mata rada kemerah-merahan untuk menahan. Bagaimana mungkin aku melupakan itu. Manjamu itu lho kasihku.
Kupikir juga itu sebuah kode darimu, kamu mengajakku bertemu di bulan April, kelahiranmu. Dasar dirimu ya, suka kode-kodean. Aku mencoba memikirkan sesuatu hal yang dapat kuberikan untukmu, apakah aku harus pergi ke pasar, mall, atau ke tempat lainnya. Namun apa yang menjadi khas-ku nanti bila aku membelinya sama seperti yang lain. Nampaknya semua masih berputar-putar di dalam kepalaku ini, April. Aku kebingungan.
Akan kuceritakan padamu apa yang telah menjadi kesepakatan hati dan otakku perihal hadiah untukmu. Hari itu aku memutuskan untuk pergi ke kota barang sejenak, sembari melayangkan balasan pesan untukmu, tentangku di sini. Setelah aku naik bus dan sampai di pinggiran kota, aku berjalan di pinggiran jalan menuju tempat yang kucari. Kulewati lorong-lorong sunyi tak berpenghuni, dan danau dengan airnya yang bening memercikkan kemilau akibat terpaan dari sinar mentari. Lalu mampir sebentar untuk membeli burger dan air mineral, ya sekedar untuk mengganjal perut.
***
Selesai berbelanja, barang-barang yang kuperlukan itu telah tersimpan rapi dalam tas; cat minyak, kuas-kuas, palet. dan terakhir yang kubawa adalah kanvas yang cukup besar terbungkus oleh kain bledu berwarna coklat. Lagaknya diriku waktu itu seperti seniman-seniman kelas dunia. Namun ternyata perjuanganku tak sampai di sini. Kau tahu saat semua telah kubawa, mampus aku, dari kejauhan nampak anjing besar menggeram dan menggonggong ke arahku. Dia mengejarku. Habis aku melejit dan terbirit-birit berlari dengan agak kesusahan membawa kanvas yang cukup besar. Anjing itu tetap mengejarku April. Dasar. Aku mencari cara supaya dia berhenti mengejar, aku harus keliling memutar balik untuk sampai ke pinggiran kota itu, dan akhirnya anjing itu sudah tidak mengejarku lagi. Haduh, nafasku tersengal-sengal, capek juga rupanya. Untung saja aku telah sampai di pinggiran danau yang cantik tadi. Kuluruskan kakiku dan memutuskan berteduh di bawah pohon yang cukup rindang, aku yakin kamu akan menertawaiku habis-habisan bila kuceritakan ini semua padamu. Pasti hilang ke-aku-anku, pasti. April, April, selemah inikah aku di hadapanmu. Akhirnya aku kembali berjalan dan menunggu bus atau angkutan lain untuk bisa pulang.
April yang kurindu, Aprilku yang sendu...
Kamu tahu tiada paras yang mampu menandingi kecantikanmu, aku tidak peduli orang mau berkata apapun, sebab mereka sendiri terkadang tidak paham apa yang mereka katakan. Kata-kata yang sekedar pengucapan tanpa memiliki arti. Betapa aku sangat mengagumimu, sedari dulu.
Pada akhirnya lukisanmu itu telah selesai kubuat setelah aku mendapatkan bahan-bahan yang penuh dengan perjuangan itu. Dasar anjing sialan, awas saja bila bertemu dengannya lagi. Aku nampak khawatir ketika membuat lukisan itu, April. Sepertinya tanganku gemetaran memegangi kuas yang tak sabar ingin menari-nari itu, aku takut lukisannya tak mampu mewakili keanggunanmu. Bagaimana tidak, sampai-sampai semesta pun aku pinta dukungannya, "ayo semesta, bantu aku, bantu aku." Kanvas dengan bledu coklat itu kubuka dengan rapi. Palet, kuas, dan tentunya cat-cat minyak sudah aku siapkan dan telah aku padu padankan.
Perlu kamu ingat kasihku, setiap goresan tiada kata lain yang mewakili selain rasa cinta. Kubuat gambarmu lengkap dengan gaun merah yang panjang dengan background awan putih bagaikan kapas yang menari pasrah, batu-batu pantai yang berjejer rapi untuk pijakanmu, dan nuansa biru yang melambangkan kesejukanmu. Tak lupa aku membubuhkan beberapa burung yang terbang riang di sana. Agar suatu saat ketika mereka benar-benar melihatmu, mereka akan sontak terkaget akan parasmu itu. Benar April, hanya kamu, untukmu seorang.
Ketika aku memandang lukisan itu, kulihat para tetangga saling mengintip dari balik celah jendela kamarku. Mereka menjadi gempar dan penasaran siapakah yang kulukis itu, bahkan anak-anak kecil terbelalak dengan parasmu.
Oh iya, telah aku tambahkan pula rasa kerinduanku di setiap sudut, di setiap sapuan warna dari kuas yang kugoreskan itu. Kuharap bila kamu memandang lukisan itu, tak lupa kamu akan mengingat selalu kerinduanku padamu. Kamu tahu waktu itu aku merasa seperti pelukis handal Jean Marais yang melukis Annelies Mellema si Bunga Penutup Abad. Semua tiada lain kulakukan hanya untukmu, sayang. Lalu lukisan itu telah kusampuli dan kututup kembali.
Jiwaku telah membayangkan dan terbang ke pelabuhan itu, April. Dimana aku akan mempersiapkan semuanya. Aku berandai menyuruh seorang anak kecil yang kuberi upah sepuluh ribu untuk membawamu ke satu titik tempat di pelabuhan itu. Tempatku berdiri nanti. Lukisanmu yang telah kutegakkan dengan penyangga, lengkap dengan meja antik dan dua kursi untuk kita duduki nanti. Lanskap pelabuhan dengan kapal-kapal baja yang kokoh, lalu sampan kecil yang berani menerjang arus dengan nelayan yang memakai caping khasnya. Semua panorama akan berpihak pada kita April, sapuan warna langit menyemburat hingga ke tepian, lalu deburan ombak kecil yang nakal hendak melambai dan menyapa rambutmu, tentunya juga desir angin yang beradu dengan nafas kita kala bertemu.
Sekejap apapun pertemuan, dia tetaplah pertemuan yang akan dirindukan. Biarkanlah selama mata kita saling menyapa, raga kita berhadap-hadapan, selama itu pula hippocampus akan merekam dan membuat kisah yang baru untuk waktu.
Aprilku yang terkasih...
Semoga kita senantiasa diberikan ruang untuk mengadu dan memulangkan rasa rindu. Kuperingatkan padamu cintaku, hati-hati dengan dengan lukisan itu, bisa-bisa air mata pecah bersamaan dengan deburan ombak yang hendak melambai di pelabuhan itu. Kamu pasti sudah tahu apa yang akan terjadi kemudian, sejuknya angin tak akan terasa karena hangatnya tubuh yang saling ingin merangkul. Lalu kita akan sejenak memejamkan mata untuk menyita rasa yang terkungkung dalam jiwa.
Bersamaan dengan itu kubisikkan pula padamu dengan kelembutan nan tersipu, terimalah lukisan itu, hanya untukmu, dari seorang lelaki yang selalu ingin mencintaimu. Dan teramat ingin membahagiakanmu. Terimalah setiap peluk, dan ciuman yang hangat dari tempat yang sunyi tanpamu di sisiku.
Dari Kekasihmu, yang akan selalu menjagamu.



Komentar
Posting Komentar