Selepas Ini Kita Tak Terbebani
*Selepas Ini Kita Tak Terbebani
Segalanya sudah menjadi damai, Char.
Mari berbondong-bondong menjadi burung
Yang terbang di angkasa itu. Lepas dan bebas.
Sudah cukup semak belukar yang beberapa
Tahun sebelumnya menjelma perhiasan.
Masa lampau. Sesekali boleh lah kita menahbiskan
Diri nantinya menjadi pengunjung museum. Jika
Kau berkenan, aku yang akan membayar tiket
Masuk untuk itu. Atau dirimu. Siapa saja, tak
Masalah.
Bagaimana mungkin, orang-orang mencoba
Melupa hal-hal yang pernah melekat di tubuh
Mereka sendiri. Menetralkan saja itu lebih tepat.
Char, yang selalu menguntit di diri kita
Masing-masing itu seperti kutukan yang
Tak ada habisnya menghantui. Pembatas
Yang tak nampak. Begitu menjulang.
Lantas langit mulai berujar demikian, entah
Kau mendengarkan pula atau tidak. Begini rupa
Bunyinya: Sungguh keterpurukan adalah
Lorong yang panjang, dan dinding-dindingnya
Akan terus-menerus bersorak mengucilkanmu.
Biarkan aku mendongeng sebentar saja, kau
Cukup dengarkan. Bila tak berkenan, putarlah
Lagu di telingamu keras-keras. Jangan
Sampai aku tahu.
Di waktu pagi, di satu hari itu. Di suatu
Bergegasnya badan menuju payung alam. Tik tik tik
Bunyi hujan di atas genting.
Pagi yang Mendung
Mendung menyeret pagi
Menuju murung. Hujan
Titik demi titik berjatuhan
Dari atas sana.
Membawa beban yang
Ditimbunnya. Meruntuhkan.
Diusap-usapnya rambut kepala
Seperti sepasang pohon yang daunnya
Ikut berdesir. Kenangan. Adalah
Wajah ibu. Ditiup-tiupkannya
Ke ubun-ubun, dipaksanya masuk
Menuju tempurung. Pagi yang mendung.
Cahaya matahari bersembunyi. Urung
Menembus, dan menghunus. Di kaki
Yang penuh sunyi, parau mendengar
Suaranya sendiri.
Tak mungkin kau tak memahaminya. Kita sendiri
Pelukis semesta itu. Tapi selepas ini, kita benar-benar
Tak akan terbebani. Ya, ya, begitu seharusnya.
Seharusnya. Namun, serasa semut-semut di bawah
Kaki menertawakanku. Bagaimana pula bahasanya.
Bebaslah. Terbanglah.



Komentar
Posting Komentar