Sebuah Perayaan
TIDAK ADA HARI LIBUR
Kau bertanya:
"Apakah ada hari libur di dadamu?"
Sejauh yang aku tahu
Tidak pernah cukup
Barang sehari saja
Untuk meniadakan ini
Kata-kata malu dan bersembunyi
Meski kau tahu mereka
Mencintai bahasa
Setiap hari
Tak letih-letihnya:
Hatimu adalah palung yang tak
Pernah selesai kuselami.
2021
___________________________________________
BERSIKERAS, TIADA HENTI
Masa lampau selalu pintar
mengubah musim-musim di
tubuh kita. Sesukanya. Begitu senang
membawa kita ke musim yang
berganti-gantian. Bertahan mati-matian.
Matamu adalah bulatan matahari tidak
kosong atau bulan yang aromanya putih.
Cinta menjelma musafir yang menempuh
kilometer jarak dan bersikeras bahwa
angka hanya berakhir sebagai angka.
Di televisi dan internet, orang-orang
begitu sibuk dengan tubuh siapa
yang mereka kenakan saat ini. Selebihnya,
air mata sudah menjadi sungai.
Yang menghantui.
Masa lampau begitu ceroboh
menyatukan nyata dengan fana, sedangkan
kau tahu bahwa dunia ini sudah begitu
tua. Berkali-kali kuhadiri perayaan ini,
di tubuhku sendiri.
Tidakkah kau melihatnya?
Tidakkah kau?
Tidakkah?
2021
___________________________________________
AKU
1/
Aku rindu mendengarkan orang-orang memakai bahasa Ibu; bahasa tempat dimana aku dilahirkan.
Aku rindu melihat orang-orang dengan keramahan dan cinta berdetak; begitu juga tubuh mereka permai dibangun kerajaan.
2/
Aku menyapamu di puisi ini sebab aku tahu tidak ada yang lebih nyaring selain kesunyian itu sendiri.
Aku menghidupkanmu di dadaku sebab aku tahu dunia sudah kejam bersikeras membunuh ingatan yang peduli.
2021
___________________________________________
RAHIM
Masa lampau tidak pernah hilang. Ia ada meski kita sendiri pura-pura lupa, atau memang tidak bisa lagi membedakan bagaimananya.
Sebenarnya bagaimana rupa kenangan itu? Apa persegi seperti martabak telur di pasar malam? Atau anak kecil bersepeda yang tak kenal lelah?
Kau harus tahu ingatan adalah tanah yang subur, mengalir seumpama sungai, mengisi seumpama wadah. Atau rahim tempat melahirkan anak-anak puisi.
Masa lampau menyukai museum dan ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya; orang-orang berdatangan mengisi tanpa mempedulikan di luar.
2021
___________________________________________
PUISI DAN JALAN HIDUPNYA
Kota-kota tidak sepenuhnya lumer,
atau akan aku bangun kembali replika
dalam tubuh puisi ini. Di luar ingatan
kita, hanyalah orang asing lalu-lalang.
Sebab apa yang lebih
laut selain tubuh yang dipisahkan.
Meski begitu, akan selalu kutemukan diriku
di dalammu, begitupun sebaliknya: kau intiku.
Biarkan saja
Puisi ini menjadi cerewet
Dan memilih jalan hidupnya sendiri
Peristiwa yang tidak pernah kita abaikan:
(1) Terminal sebagai kata-kata perpisahan
(2) Juga kesepian yang tidak kunjung bisa disembuhkan
Akan tetapi puisi tidak pernah
melewatkan barang apa pun, sesiut apa pun,
ia ingin tampak lebih nyata, bukan hanya
sekadar kata-kata kosong belaka.
Ia ingin tinggal – menjadi
penyihir dalam tubuh kita yang tidak
kenal kalender dan runcing jarum jam.
2021
___________________________________________
Selamat Hari Puisi Nasional




Komentar
Posting Komentar