puisi-puisi yang pandai menghasut kita

 

Why write love poetry in a burning world?
To train myself to find in the midst of hell what isn't hell.

–Katie Farris


faa


matamu padang sabana

matamu padang sabana.
      di sekelilingnya aku terjaga
      bermain tebak kata yang suka
      sekali bila bertemu aroma cinta.

kau perjalanan dan masa depan,
      juga sesuatu yang aku sebut dengan
      harapan. apalah cinta melainkan
      keyakinan-keyakinan kita pada

usaha untuk merawat yang ada. mari ber-
      pesta seterusnya untuk merayakan 
      jantung kita yang suka dibuat dag-
      dig-dug tidak karuan rasanya.

aku gembok. kau anak kunci yang
      membuka sisi lainku. selepas kau tidak
      ada rute lain, kecuali ke puncak gunung
      dan kita menatap segalanya? atau dari

jendela kamar kita tempat rahasia
      membicarakan bagaimana dirinya. selepas
      kau, tidak ada perjalanan. tubuhku sudah
      menemui cara pelik dan peluk bersandar.

2026
___________________________________


faa


seluruhnya adalah kau

suatu hari nanti kita akan
duduk bertiga; kau, aku, dan
rindu yang menggerutu dan
lelah sebab terlalu lama menunggu.

atau sebetulnya puisi-puisi juga
hadir. barangkali ia akan membayangkan
pelukan hangat dan perasaan-perasaan
haru yang sepenuhnya gagal selamat.

aku terus berusaha agar suaramu tak
pernah hilang dan tergerus. di ruas-ruas
pikiran, di jalan-jalan sempit yang tak
pernah rela memaafkan kehilangan.

aku sepenuhnya mengingat pesanmu:
dunia boleh kotor, sayang. tapi
tidak dengan nurani kita.

ah, aku membayangkan betapa indahnya
dunia semasa itu. puisi-puisi senantiasa
menyimpanmu dan kota-kota masih berteman
karib dengan sepi. di sini, aku abadi mencintaimu.

2026
___________________________________


faa


jika aku dan kau

jika aku mengetuk pintumu,
adakah kau akan tergesa-gesa
dan loncat kegirangan untuk
membuka pintu dan menemuiku?

jika aku berdiri di sampingmu,
adakah bayanganmu akan menari bersama
bayanganku dan kita akan sama-sama
menari seperti sepasang merpati?

jika kau menemui anak kecil
di dalam diriku, maukah kau menenang-
kannya dan mengajaknya bermain untuk
tegar mengelus-elus masa lalu?

jika kau benar-benar di dekatku,
maukah kau meminjamkan sepasang
lenganmu agar aku yakin bahwa tidak
semua lengan adalah setan dan pemburu?

namun jika bukan aku dan kau,
bukankah tidak perlu menggebu-gebu?

2026
___________________________________


faa


ombakmu bergemuruh di dadaku

aku timur, kau barat. dan laut
di antaranya; biru, tenang, menyimpan 
debar, dan selalu berhasil menafsirkan
bunyi yang bersembunyi di balik sunyi.

ombakmu bergemuruh di dadaku.
tebing bebatuan menghalangi gaduh,
angin melafalkan masa lalu dan masa
kini dengan lembut dan sedikit berteriak.

sayang, apakah kau mencintaiku?
ucapmu. ah, jangan berpura-pura
tidak tahu, bukankah usia puisi dan
cinta kini sudah jauh begitu tua?

meski aku memaklumi, kau
hanya butuh kepastian yang mampu
menopang kegelisahanmu. kau hanya
ingin tentram agar tidak menjadi tantrum.

puisi menertawakan kita. hahaha. alamak,
semoga kita selamat dari cinta dangkal yang
tahunya cuma meminta. apalagi cinta yang
suka marah-marah dan membuat resah.

sebelum doa-doa menjadi dingin,
maka seharusnya amin dilantangkan sejauh
ingin. satu persatu kesedihan menepi.
selepas itu, tidak ada lagi.

2026
___________________________________


faa


usia

halo. tahun berapa ini?
sudahkah menulis puisi?

2026
___________________________________

Komentar

Postingan Populer