Peta
Kita berdua duduk di taman pekarangan rumah kita. Sembari menikmati es krim kesukaanmu di bawah langit yang warnanya merah kesumba. Yang kemudian, langit-langit itu menjatuhkan sari-sarinya di atas kepala kita. Yang kemudian menyerbuk di tanah, di kediaman, di taman-taman yang cantik. Disusun oleh beberapa cerita sana-sini yang mulai tak muat penampungnya. Tapi tetap saja kita bertahan. Tak pernah tuh kita meracau, ya sesekali saja sih.
Sementara sebuah peta telah digambar begitu cantiknya, yang disusun oleh.... Yang disusun oleh kita, yang benar-benar harum aromanya, yang kadangkala kita sendiri saja sering tersesat di dalamnya. Iya? Tak mengapa. Ih.
Kamu yakin pembuat peta itu adalah kita?
Maksudku, kamu ragu Sayang?
Hanya memastikan, bahwa penciptanya adalah kita. Yang tidak semua orang bisa menyusup di dalamnya selain kita berdua. Bukankah begitu?
Iya, benar. Bahkan tak ada yang mengerti jalan-jalan dan liukan, maupun sungai-sungai panjang yang mengalir dengan kenangan yang bermuara di dasarnya.
Jadi, taman yang elok itu adalah semesta? Mmm... Maksudku semesta yang hanya kita berdua saja penghuninya. Cukup kita saja. Yaps. Biarkanlah kita tersesat di dalamnya, tak dapat keluar pun oke-oke saja.
Peta itu begitu manisnya, yang dihiasi oleh jalan-jalan, aku yang mengecat jalan itu, kamu ingat kan? Sungai-sungai yang mengalir deras, di bawah sapuan bianglala yang kamu toreh waktu itu. Setiap harinya kita menyirami taman, dengan niat dan jerih payah kita sendiri.
Kita berdua yang telah membuat peta itu. Dan kamu berkata, supaya kita betah di situ. Dan aku bilang, iya. Kamu memelukku dan aku menciummu. Sementara es krim tadi sudah habis dimakan. Sedang langit yang merah kesumba itu tetap saja sama, warna serta biasnya.
Peta itu begitu manisnya, yang dihiasi oleh jalan-jalan, aku yang mengecat jalan itu, kamu ingat kan? Sungai-sungai yang mengalir deras, di bawah sapuan bianglala yang kamu toreh waktu itu. Setiap harinya kita menyirami taman, dengan niat dan jerih payah kita sendiri.
Kita berdua yang telah membuat peta itu. Dan kamu berkata, supaya kita betah di situ. Dan aku bilang, iya. Kamu memelukku dan aku menciummu. Sementara es krim tadi sudah habis dimakan. Sedang langit yang merah kesumba itu tetap saja sama, warna serta biasnya.
Apa pintamu, Sayang?
Kamu selalu bersamaku?
Baik, sepakat
Sepakat untuk apa?
Ya... Yang tadi
Tadi yang mana?
Ya itu
Oh, itu
Yang mana coba?
Yang itu kan?
Paham?
Paham, selalu.
Kenangan-kenangan bertebaran dimana-mana. Di setiap musimnya, pekarangan kita tetap sama. Semesta yang dicipta masih saja sama aroma serta warnanya. Sampai kita tua, sampai kita menjadi debu.
Doa-doa yang baik akan menemukan tempatnya, bukan? Begitupun dengan kita yang senantiasa akan berada di peta itu, menyusuri atau bahkan membuat semakin lengkap komponen-komponennya. Aamiin.
Doa-doa yang sungguh akan melingkari rumahnya, bukan? Begitupun dengan kita yang selalu nyaman di peta itu, menghiasinya dengan kasih sayang yang akan semakin rapat keberadaannya. Aamiin.
Kamu yakin peta itu akan utuh?
Iyalah, kita senantiasa tersesat di dalamnya
Dan tidak bisa kembali lagi, Sayang?
Tidak, bahkan tak ada yang bisa memasuki peta itu selain kita
Benar?
Benar. Bukankah kita penciptanya?
Kau yakin bersamaku?
Iya, tentu. Sayang.
Kita akan senantiasa tersesat di dalamnya? Yap betul. Kita amini bersama dengan setulusnya hati kita. Aamiin.
Doa-doa yang baik akan menemukan tempatnya, bukan? Begitupun dengan kita yang senantiasa akan berada di peta itu, menyusuri atau bahkan membuat semakin lengkap komponen-komponennya. Aamiin.
Doa-doa yang sungguh akan melingkari rumahnya, bukan? Begitupun dengan kita yang selalu nyaman di peta itu, menghiasinya dengan kasih sayang yang akan semakin rapat keberadaannya. Aamiin.
Kamu yakin peta itu akan utuh?
Iyalah, kita senantiasa tersesat di dalamnya
Dan tidak bisa kembali lagi, Sayang?
Tidak, bahkan tak ada yang bisa memasuki peta itu selain kita
Benar?
Benar. Bukankah kita penciptanya?
Kau yakin bersamaku?
Iya, tentu. Sayang.
Kita akan senantiasa tersesat di dalamnya? Yap betul. Kita amini bersama dengan setulusnya hati kita. Aamiin.
Selamat Hari Puisi Se-dunia :)



Komentar
Posting Komentar