Menghardik Sunyi
ARLOJI
Kau mengabut
Sementara arloji
Sudah lupa dengan waktu
Jarum-jarum patah
Tak terkirakan jumlahnya
Di huyung pangkuanmu
Dan di sini masih bisu
: Sudah terlanjur mencintaimu, sayang.
2020
____________________________________________________
BADAI HUJAN
Kuterka badai
Dan rintik-rintik di luar itu
Kaukah yang melesat
Di antara bisik yang kacau
"Ingatlah aku, sayang" serunya
Tangan dan bibir
Menggapainya sia-sia
: Tunggu dulu!
2020
____________________________________________________
TERPENCIL
*di ujung rindu
Hujan, dan kau masih ada di dalamnya. Sementara musim-musim yang lainnya sama saja. Kau terpencil di sana. Sia-sia.
"Bukannya aku bermaksud...."
"Aku paham, sayang."
Sudahlah. Tapi apakah kita berhak berkata, sedangkan jarum-jarum jam menatap tajam pada kita seperti pedang yang ingin menghunus musuhnya.
2020
____________________________________________________
BASAH KUYUP
Aku menepi
Sepanjang riuh gelegar
Petir di luar rumahmu
Adakah kau
Membukakan pintu untukku
Sayang?
Basah kuyup
Sementara kau sedang merias diri
Di depan cermin
Aku masih di luar
Kupanggil namamu
Kau menoleh
: Syukurlah.
2020
____________________________________________________
SATU PATAH DUA PATAH KATA
*untukmu nona
Sudah habis
Langkah-langkah kaki itu
Di genangan rintik
Yang tak terkirakan lagi jumlahnya
Padahal
Satu patah dua patah kata
Belum sempat keluar
Mengikuti jejakmu
Sehabis hujan reda
Gemetar pada tik-tok jam
Di dalam kepalaku.
2020
____________________________________________________
PERCAKAPAN CERMIN
Jika kau menjadi cermin
Bolehkah aku memandangmu?
Jika aku di hadapanmu
Sudikah kau menjelma diriku, sayang?
Jika bukan kau, apa aku tak boleh menjelma yang lain?
Dan jika kau menjadi yang lain, adakah kau berikan nyawa hanya untukku seorang?
Jika nyawa sudah kuberikan untukmu?
Maka semua yang di hadapanmu hanya semu
Lantas, kau bagaimana?
Bukankah kau sudah rela memberi nyawa padaku?
Oh, iya.
Aku sungguh-sungguh, sayang.
2020
____________________________________________________



Komentar
Posting Komentar