Rindu yang Purba


Lalu bagaimana pula menyampaikan rindu yang purba ini, sayang. Bagaimana cara menyampaikan kepada bangunan-bangunan yang khas itu; peribadatan dengan atap yang saling susun-menyusun satu dengan lainnya, garis-garis pantai sepanjang jalan. Haduuhh, ada yang benar-benar menyiksa.

Sesungguhnya, mmmm.. ya, ini benar, yang sesungguhnya.  Sungguh-sungguh yang benar sungguh. Rindu sudah tertanam begitu rapatnya semenjak dahulu, layaknya seorang anak yang terbelah dengan orangtuanya begitu pun sebaliknya. Saat itu.

Rumah berbisik padamu, katanya kapan kau akan bergegas mengunjunginya. Tunggu, kau sungguh menambah bebanku jika seperti ini. Dikiranya tak tersiksa? Astaga.

Pasar malam yang senantiasa seperti kembang api. Kau sulut dia bermekaran, dan tentunya aromanya merebak ke sekeliling. Adakah kau masih menyimpan rindu yang purba itu? Adakah kau masih menjaganya? Ah, tak ada yang hilang, sayang. Aku sungguh-sungguh.

Kenangan benar-benar melesat di tempurung kepala, siapa pula yang dapat menghalaunya. Kenken ni. Yang mengandung rindu akan terasa sempit dan terhimpit. Kata-kata sudah hampir habis, apa yang masih bersisa? Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyiannya masing-masing.

Jadi, bagaimana cara mengulur tali yang sudah terbentang begitu panjangnya melewati pulau, pelabuhan, yang tak ada jangkar sebagai pengaitnya itu, yang semenjak kisahnya berakhir belum ada lagi kesempatan kembali, yang ketika diingat-ingat, alamat sudah telaganya mengalir kembali, yang merespon titik amygdala, yang mengusik telinganya; kenangan yang saling menyusun, mengumpul, dan terkumpul. Adakah kau masih menyimpan rindu yang purba itu? Adakah kau masih menjaganya? Tak perlu dijawab.

Apa yang masih kau ingat?
(Tak ada jawaban)

Apa?
(Masih tak ada jawaban)

Apa? Cepetan ih
Tunggu, sayang. Berilah waktu buat merespon pertanyaan yang sulit kujawab itu. Masalahnya jika aku menangis, apa kau bisa menenteramkan kembali, hayoo.

Jadi?
Oke. Kujawab. Siapa pula yang tak mengingat jalan yang lurus itu, yang di samping-sampingnya biasa kita eja. Sawah di ujung utara itu, kau ingat? Bukankah kita pernah berada di sana sekadar untuk mencari udara segar.

Lagi? 
Ah, kau cerewet sayang. Tiada yang paling berharga selain segala sesuatunya itu, yang masih saja terus tersimpan, yang tak ingin dihilangkan, yang berdoa dengan Aamiin begitu ribut dalam kepala, yang sebenarnya berusaha mencari jeda yang tepat agar bisa masuk ke sana. Kembali. 

Sementara setelah percakapannya dengan entah siapa, gema yang gaib di dalam kepalanya. Tapi, ya sudahlah. Ingin terlelap barang sebentar. Adakah kau masih menyimpan rindu yang purba itu? Adakah kau masih menjaganya? Astaga, masih pula ditanyainya. 

Aku merindu, sayang. Sungguh.
Yakin?

Perlu bukti apa?
Kau kemari?

Ah, sudah kutebak. Sulit sekali, jarum-jarum jam itu masih menatapku dengan penuh dendam. Kalau aku jadi gila gimana, hayoo. Kau mau tanggung jawab? Kan repot nanti.
Kau tak benar-benar menyayangiku?

Bukan begitu, kau menyulitkan posisiku. Sungguh.
Tidak, sayang. Bukankah menunggu dan ditunggu sama-sama ditatap penuh dendam oleh jarum-jarum jam itu ya? Sementara yang dahulu sudah banyak berubahnya.

Ya, kuharap rasamu tetap sama
Diusahakan. Pasti. Tak tahu pula. Semoga lah.

Karena kenang serupa benang yang kusut. Sungguh. Harap-harap dibereskan malah tersangkut ke mana-mana, yang tadinya ingin dibenarkan malah semakin tak karuan bentuknya. Jika tidak diusut baik-baik, ya kalau kenangnya jinak, kalau tidak? Mampus juga dia mengacau pemiliknya. Meracau pula dalam kepala.

Sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring. Tapi suatu saat, kita pasti bertemu kok. Aamiin paling serius untuk hal ini. Aamiin.


Kau melesat
Dalam tempurung kepala
Sementara jarum jam
Masih menatap kita
: dendam kesumat

Tiada yang luput
Satu persatu
Di antaranya, masih tertata
Sayang

Masih rapat
Aksara demi aksara
: Kau masih ada.

_______________________

Komentar

Postingan Populer