Kepada Rumah; Dikiranya yang Pergi Tak Menanggung Rindu



Kepada rumah, dikiranya yang pergi tak menanggung rindu? Huh. Kalau hamba ini mendadak gila gimana hayo? Sementara bayang-bayang itu selalu membuntuti kemana saja, tapi apa boleh buat. Yang terjadi biarlah terjadi, ya, mau bagaimana lagi.

Tak perlulah diusut bagaimana perasaannya, tak perlulah dicari bagaimananya, dia sudah ada semenjak dunia ada. Purba ucapnya, ya, sudah ada semenjak dahulu kala. Yang sudah tak mampu dipahami pula benang merahnya. Oke, baiklah. Hmmm.


Kepada rumah, sekali lagi, kau kira aku tak menanggung rindu?
Bukan begitu

Lantas?
Sudahlah, bukankah kita tak perlu lagi mencari-cari alasannya?


Apa iya kita langsung ada begini, Sayang? Kau langsung dicipta untukku? Tanpa perlu ku jelajahi dunia ini satu persatu, tetapi kita harus mencari tahu jawabannya, darimana asal muasalnya kita. Seberapa perlunya sih? Ya, pokoknya perlu. Ya, ya, ya, terserahmu saja.


Kau bukan tukang sihir, bukan?
Maksudmu?

Kau memakai mantra apa sih?
Mantra kasih sayang, yang perasaannya merapat pada penghuninya, yaitu kita.

Pantas saja. So, i think i love you
Yakin?

Iyalah
Oke, baiklah.


Lantas, mengapa jam itu menutup telinganya ya? Apa biar kita tidak kenal waktu, apa dia berusaha membiarkan begitu saja doa-doa dan mantra yang lainnya melingkari rumah. Dalam diri kita masing-masing, yang paling cekung dalam tingkat kesadaran dan bertempat tinggal di muara kasih sayang. Mmmm, i think i love you, beib. Oh, ya harus kalau itu.

Kepada rumah, dikiranya yang pergi tak menanggung rindu? Tidakkah kau ingat kisah-kisah dongeng di dalamnya? Yang membuat hangat suasana, yang kadangkala membuat haru penghuninya. Sekarang, kau sudah menamatkan dongeng itu? Sedang membacanya? Atau sudah bosan? Ah, kau cerewet, Sayang. Tidak ada kait mengaitnya. Lah, ada dong, ya itu. Kita

Kenangan yang masih menyusup di balik kulit dan sembunyi di tempurung kepala itu mencegah mata melihat yang lainnya. Kapan lagi kita bisa sedemikian rupa, tak perlu bicara sudah paham satu sama lainnya. Oke, i think i love you so much. Ah, gombal. 


Sepertinya mau gerimis ya, Sayang?
Ih, mana. Enggak

Itu, mata. Kok bening berkaca-kaca
Ah, enggak

Jadi?
Jadi?

Ya apa?
Entah.


Percayakah kau pada kasih sayang ini? Yang akan selalu merapalkan doa-doa di sepanjang perjalanannya, yang tak letih-letihnya diucapkan oleh mulut kita, yang selalu dirasa oleh semesta. Kau merapat pada benak, dan kau tetap dalam inti.

Jadi, kepada rumah. Masihkah kau mengira, yang pergi tak menanggung rindu? Maafkan aku. Baiklah, kau tetap ada, tidak hilang, Sayang. Syukurlah. 


Masih ingatkah kau pada rumah?
(Tak ada jawaban)

Masihkah?
(Tak ada jawaban)

Demi waktu yang fana ini, apa yang kau ingat, Sayang?
Ya dirimu, apa lagi

Mengapa diam saja? Apa aku bukan rumahmu?
Bukan begitu, Sayang. Jika gerimis lagi bagaimana? Suaranya dekat pintu

Ya akan kutampung. Beres.


Sementara itu, tidak ada lagi rahasia, tidak ada yang perlu diusut. Siapa pula yang peduli, kita tetap ada, kita sudah ada. Darimana muasalnya? Yang penting sekarang kita ada. Itu sudah cukup. Ya walaupun sedang tak bersama. Tapi kita abadi kan? Tentu, ya, ya, begitu. Aamiin.

Komentar

Postingan Populer