lirik untuk yang abadi
sudahkah kita mengimani
kata ikhlas tadi.
sudikah kerelaan itu
menyertai kepala dan hati.
ikhlas adalah iman.
mau bagaimana lagi.
ya, kan?
dan semenjak itu pula
takdir berhenti. menyaksikan
kita yang lama berdiri
menatap tubuhnya sendiri.
sudahkah kita mengilhami
kata ikhlas itu sendiri.
sudikah kata ikhlas
merapat pada tubuh, sudikah?
ikhlas adalah kata
yang sering dilontarkan
ke sana kemari sampai
dia pusing sendiri.
lalu?
ya, kau ikhlas, tidak?
ikhlas adalah iman, kan? iya, kan?
ya, ya, ya. begitu. katamu.
***
satu demi satu
kata demi kata
yang menyusun anggota
tubuh kita dari muasalnya.
membawa kita nantinya,
ke titik nun jauh di sana.
terus menatap sedari
terlahir pada yang fana.
***
masih saja bertanya-tanya
mengapa, mengapa, mengapa
mengapa seperti kehabisan suara?
masih saja bertanya-tanya
mengapa, mengapa, mengapa
mengapa seperti kehabisan suara?
ha-
ha-
ha.
mendadak laba-laba
menyulam sunyi dari
jaring-jaringnya yang
diikatkan ke sudut jendela.
kau mau ke mana?
(tak ada jawaban)
mengerucut kata
pada alfabet yang
i - k - h - l - a - s lagi suara
tanjakannya.
***
cermin tak pernah meracau
pada apa-apa
yang selalu muncul
di hadapannya.
tak pernah berteriak
seperti yang lainnya.
barangkali ikhlas
serupa cermin
yang menyerahkan tatapan
pada rupa di hadapannya.
barangkali kita
adalah cermin itu,
yang tiada luput mengikhlaskan
satu demi satu.
***
bahwa menyesali dan meratapi
yang sudah-sudah adalah
jalan terjal yang sulit
titik ujungnya. aamiin.
jadi, sudah ikhlas, nih?
ha-
ha.
mendadak laba-laba
menyulam sunyi dari
jaring-jaringnya yang
diikatkan ke sudut jendela.
kau mau ke mana?
(tak ada jawaban)
mengerucut kata
pada alfabet yang
i - k - h - l - a - s lagi suara
tanjakannya.
***
cermin tak pernah meracau
pada apa-apa
yang selalu muncul
di hadapannya.
tak pernah berteriak
seperti yang lainnya.
barangkali ikhlas
serupa cermin
yang menyerahkan tatapan
pada rupa di hadapannya.
barangkali kita
adalah cermin itu,
yang tiada luput mengikhlaskan
satu demi satu.
***
bahwa menyesali dan meratapi
yang sudah-sudah adalah
jalan terjal yang sulit
titik ujungnya. aamiin.
jadi, sudah ikhlas, nih?
kau bagaimana?
aku ngikut.
ya, udah. sama. hehe.
***
pada suatu hari yang baik nantinya, tentu kita tidak ada lagi, bukan? tapi, tidakkah kita yakini, kasih sayang yang sudah dikenal semesta ini akan membentuk ruh dan tubuh kita kembali di saat yang kekal.
dan masing-masing dari kita
sudah terlampau paham
setiap posisinya. aamiin.
***
tapi, yang fana adalah
aku ngikut.
ya, udah. sama. hehe.
***
pada suatu hari yang baik nantinya, tentu kita tidak ada lagi, bukan? tapi, tidakkah kita yakini, kasih sayang yang sudah dikenal semesta ini akan membentuk ruh dan tubuh kita kembali di saat yang kekal.
dan masing-masing dari kita
sudah terlampau paham
setiap posisinya. aamiin.
***
tapi, yang fana adalah




Komentar
Posting Komentar