Tarik Ulur
Sial. Seberapa pun lamanya, masih saja menyumpal di dalam kepala. Apa iya ini yang namanya tak bisa melangkah maju, apa iya ini yang namanya masih terjebak dalam masa lalu. Siapa? Kamu? Ha-ha-ha-ha. Puas? Diledekin lagi. Huuu.
Masalahnya gini, sekali-sekali jangan masuk dengan menyelinap. Kayak maling aja. Izin gitu terlebih dahulu, pakai permisi kek atau apa. Belum siap-siap, eh tau-tau udah penuh sesak. Kan ribet jadinya.
Maksudnya apa sih? Ah, pura-pura nggak tau. Betapa sulitnya hidup dalam bayang-bayang seseorang yang udah nampak fiksi saat ini. Alamat sudah, tokohnya begitu kuat. Sampai-sampai masih eksis aja, udah berapa tahun coba. Mmmm... Belasan tahun ya? Hal-hal yang udah jelas nggak perlu dijawab sih.
Maaf, bukan maksudnya...
Ah sudahlah. Bukan salahmu Sayang.
Masih aja makai kata Sayang, lamat-lamat kamu akan terjebak lebih dalam lho, hayo.
Masalahnya, susah banget buat dilupain. Ada aja pemicunya. Untungnya masih kuat, kalau nggak gimana hayo.
Hehe.
Hehe-in juga deh.
Dikiranya yang lampau tak menanggung rindu. Dikiranya yang sekarang terlihat baik-baik saja tak mengandung sendu. Jadi mau sampai kapan akan terus begini, berupaya sedemikian rupa tetap saja hasilnya. Hadehhh repot.
Mmmm siapa yang salah sih? Atau gini, siapa yang membikin semua ini jadi rumit sampai sedemikiannya. Tarik-ulur terus-menerus. Dikiranya tak lelah. Asyeekkk.
Bahwa masa lampau adalah sebenar-benarnya rumah, yang minta dijaga dan dirawat keberadaannya. Karena jika tidak, reruntuknya akan menusuk penghuninya. Berserakan lah hal-hal yang sudah tertata dengan semestinya, dipungut lagi - jelas harus menanggung resiko mengingat kembali.
Atau masa lampau adalah museum ya? Tempat segala hal-hal yang berharga. Yang kadangkala, justru pemiliknya - dengan kesadarannya malah memasukinya lagi. Ya karena museum, tempat mengingat dan melihat. Nahas, yang masuk kadang tersesat. Tak bisa keluar.
Kayak kamu kan? Masuk museum malah lupa jalan keluar ha-ha-ha-ha.
Astaga, masih pula diledeknya.
Hehe maaf. Jadi?
Jadi apa?
Ya tadi.
Yang mana sih?
Tuh kan, gantian kamu yang pura-pura lupa.
Ah, sudahlah.
Jadi apapun bentuknya, bagaimanapun perwujudannya. Yang namanya masa lampau ya memang begitu, ada aja pemicunya. Bukankah setiap orang pernah berada di masa itu? Perbedaannya, jalan keluar masing-masing tidak sama; ada yang lurus, ada yang berkelok sedikit, ada pula yang terjalnya nggak karuan. Jadi makin susah.
Kesimpulannya? Ya gitu. Udah. Semoga baik-baik saja, apapun halnya.
____________
Masa lampau
Memasukimu sebagai angin
Yang bernafas dan semayam
Di tubuh, utuh
Lamat-lamat
Habis pula merasuk
Lewat aliran zarah darah
Dan kau, tiada sanggup menepis
Hingga pada titik
Ke sekian. Kau
Dengannya sudah menyatu
: Tanpa perlu kata setuju.
______________
S U K S M A



Komentar
Posting Komentar