Ada Apa Dengan Puisi
Pertanyaan yang sering muncul di pikiran banyak orang tentang puisi, "buat apa sih", "alay ih", atau yang lebih menyayat hati, harap-harap dikata romantis malah dibilang "lebay". Mmmm... Entah saya harus memulainya dari mana. Oke, mari kita lanjutkan perbincangan, sila bersandar di kursi malas kesayangan sembari ditemani secangkir kopi ataupun teh di tangan.
Orang yang selalu berdekatan dengan puisi dianggap yang paling mellow dibandingkan dengan yang lainnya, apalagi bila yang mencintai puisi itu seorang laki-laki. Mampus juga, cercaan dan hinaan bisa saja jadi makanan sehari-hari. Saya laki-laki dan teramat mencintai puisi.
Beberapa mungkin beranggapan bahwa berpuisi dianggap suatu kegiatan yang unfaedah dan tiada guna. Mmmm... Saya menyangkal, ada suatu titik yang mengajarkan dan memberikan pencerahan kepada saya mengapa harus/memilih berpuisi.
Orang yang berpuisi dikata tergila-gila dengan cintanya, kemungkinan jawabannya lebih mengarah ke "iya", dan memang demikian. Namun kata cinta bukan hanya ditujukan kepada lawan jenis saja lho, bila ada yang berpikiran seperti ini, ya alamat sudah mengkerdilkan cinta itu sendiri hehe. Tergila-gila akan cinta; tentu bisa kepada, oke - lawan jenisnya, sesama manusia, Tuhan sang Pencipta, kehidupan, takdir, maupun yang lainnya.
Konon katanya, mereka yang senantiasa berdekatan dengan puisi dianggap memiliki perasaan yang lebih halus dan lemah lembut. Ya bisa saja. Namun yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa bukan hanya wanita saja yang memiliki perasaan, namun laki-laki juga. Jangan dikiranya mereka tidak berperasaan.
Kegiatan berpuisi bukan kegiatan yang bisa dianggap remeh-temeh. Jauh sebelum melangkah, tentu kita sering mendengar perkataan demikian "Ada orang yang cenderung menggunakan otak (rasional), dan ada yang cenderung pada hati (perasaan)". Mmmm... Saya ingin perbincangan batin ini terjadi diantara kita. Asyeeekkk. Nah, bagaimana dengan berpuisi? Bagi saya puisi memakai keduanya, dan itu tidak mudah lho. Sebuah upaya untuk menjaga keduanya. (Sila diseruput dulu kopi atau teh-nya)
***
Oke, kita lanjutkan. Jadi, berpuisi itu bukan hanya menggunakan perasaan saja, alih-alih dikuasai hati - puisi juga melatih otak tentunya. Bagaimana merangkai, memilih, dan memilah diksi yang tepat untuk dijadikan lirik puisi.
Lagi-lagi kecintaan saya terhadap puisi semakin menjadi-jadi. Bagaimana kita merangkai kata yang jumlahnya tidak banyak itu (hanya beberapa baris; termasuk paling sedikit dibandingkan jenis tulisan lainnya), namun memiliki makna yang mendalam - tafsir yang membawa kita pada semesta lain yang jauh lebih luas. Berawal dari sedikit kata menuju luasan makna tiada tara. Di situlah, salah satu letak keistimewaan puisi.
Dan lagi-lagi itu tidak mudah.
Berpuisi Menghargai Kehidupan
Yang saya yakini, penyair selalu mengajarkan kita untuk selalu menghargai setiap detik kehidupan dengan sebuah keindahan (berpuisi). Sesuatu yang dianggap ironi sekalipun bisa diubah menjadi keindahan. Syukur atas apa-apa yang sudah digariskan adalah lebih baik.
Berpuisi adalah menangkap dan mengingat peristiwa; kejadiannya maupun perasaan kita saat di titik itu, dua hal sekaligus. Diantara kita tentu pernah tersenyum-senyum sendiri bukan ketika membaca puisi, energi yang turut mengalir menuju diri kita.
Berpuisi - Berfilsafat
Puisi yang baik adalah puisi yang tidak habis sekali baca. Apa maksudnya. Di sini letak kesulitan berpuisi, tentu tidak semua orang bisa menangkap maksud dari sebuah puisi, bilangnya begini eh tau-tau maksudnya begitu. Piawai sekali.
Jadi, tentu kita akan selalu memikirkan kira-kira apa maksud dari puisi yang kita baca. Dan semenjak itu pula, otak sekaligus perasaan kita dimainkan - diajak berpikir sekaligus menghayati. Sama halnya dengan berfilsafat, menemui kebenaran sampai ke akar-akarnya bukan? Dan lagi-lagi harus dikata, itu tidak mudah.
***
Kenapa harus puisi? Bila pertanyaan itu dilontarkan kepada saya, walau ini mungkin menjadi jawaban sementara setelah bertahun-tahun saya mencarinya. Bagi saya, puisi adalah ruang rahasia ternyaman untuk menyimpan sesuatu yang berharga. Layaknya sebuah berangkas - tentu yang membukanya harus mengetahui kodenya terlebih dahulu, begitupun dengan puisi (ruang rahasia saya pribadi), yang ingin mengetahui maknanya ya tentu harus memiliki kuncinya. Apa? Yaitu kecintaan juga terhadap puisi.
Pada akhirnya, saya mengamini Chairil Anwar bahwa "Hidup hanya menunda kekalahan", jauh sebelum itu terjadi kita boleh memilih apapun untuk bertahan dan meninggalkan jejak. Dan saya memilih puisi. (Aya Canina)
Semoga harimu menyenangkan.
S U K S M A
____________________________
Di beranda kesayangan
6 September 2020



Komentar
Posting Komentar