Betapa Kita Belum Beranjak dari Kisah-kisah Terdahulu
Sebelum Tiba
Rupanya kita belum juga selesai
Beranjak dari kepergian semasa itu.
Kepalaku adalah museum. Penuh
Lalu-lalang juga oleh pertanyaan-pertanyaan.
Kita pernah bertemu di sana; di punggungmu!
Yang murah senyum dan menggoda. Atau
Dua danau di atasnya yang hanya sesekali
Dikunjungi musim penghujan.
Kau bilang begini: Ada perempuan
Yang selalu bernyanyi di dadamu. Kau begitu
Mahir mempermainkanku dan suasananya
Pada pukul satu dini hari. Begitu liar.
Rupanya kita belum juga selesai
Beranjak dari kegelisahan yang lalu.
Jam tangan dan terminal. Sama halnya
Dengan kata-kata perpisahan.
Sebelum benar-benar tiba.
Menghitung tahi lalat di wajahmu
Adalah tamasya yang menyenangkan. Dan
Manisnya yang lemah lembut di bibir.
Juga di setiap sudutnya yang menawarkan
Masa depan. Sebuah film romansa.
Di waktu itu, kakiku, yang dipaksa
Meminjam baja yang kokoh.
Berat.
Begitu dalam.
2021
_________________________
Masih Masa Lampau
1/
Aku di sini. Masih memejamkan mata.
Sementara kau meminjam lengkingan
Suara gagak merobek dada. Kau lihat
Apa saja yang tak mampu diceritakan.
Tidak dimengerti waktu. Sebab waktu
Melangkah maju dan enggan mengulang
Kenangan yang gemetar. Atau memutarnya
Kembali sebagai adegan film.
2/
Usaha yang kau lakukan tak pernah sia-
Sia. Sungguh. Sesaat saja kau sudah mahir
Menjadi daftar menu di restoran mewah atau
Kesederhanaan di kaki lima. Kau tak
Pernah mengeluh dan mengalah.
: Dengan keadaan
Lain halnya diriku – Sepotong waktu
Yang masih mencari-cari di mana letak sebuah
Kerelaan. Di rumah hanya ingin kurenungkan sendiri,
Atau lekuk tubuhmu sebagai kasur pribadi.
Masih saja, terus begitu. Lihatlah sendiri!
3/
Tubuhku di sini, masih lalu-lalang
Dikunjungi masa lampau. Masih
Dibisikkan dan dibisukan oleh
Mantra-mantra. Berulang-ulang.
2021
_________________________
Menuju Malam di Kaki Pengelana
Jika kau berpikir, bila kesendirian
adalah hal yang beracun. Maka biarkan
dirimu termakan olehnya, sejadi-jadinya
di musim yang malamnya telanjang kedinginan.
Serasa angin mengisah perihal masa
lampau lagi, di telinga yang mulai tuli, lika-liku
jalanan, sepasang spasi di perempatan besar
tempat membeli martabak telur, juga hal-hal yang
membuat babak-belur, termasuk intisari: kau sendiri.
Bila malam adalah sebilah pisau
Hujan adalah tajam yang membunuh
Perlahan reruntuk tubuhku.
Pengelana atau perantau atau apa saja yang
menyangkut itu, mengapa pula diperdebatkan. Sementara kakinya sebagai lelaki sedang diuji. Kepulangan yang menjadi akhir, atau seperti dendam, yang enggan hilang sebelum tuntas terbalaskan.
2020
_________________________
Menolak Tiada
Hujan coba menghapusmu
Di ujung utara
Suara-suara belum habis
Memanggilku satu-persatu
Sebab rupanya kau
Menolak tiada
: Atau kisah-kisah terdahulu
Begitu cerewet.
Sementara kau bergegas
Sekali lagi, berucap janji.
2021
_________________________
Mengingatmu Lagi
Kuingat lagi, matamu hiasan lampu.
Sedang senyuman adalah
Jalan panjang dengan ujung
Yang menyenangkan juga menenangkan.
Di playlist sekarang tak ada lagu.
Suara menggigil memanggil
Ruhnya sendiri.
Dulu, aku pernah memiliki banyak
Mimpi indah. Sebelum akhirnya
Kau dan aroma parfummu hilang.
Sibuk dan ditelan waktu.
2021
_________________________
_________________________



Komentar
Posting Komentar