nyanyian sunyi dan puisi-puisi yang menolak pergi
"If I read a book and it makes my whole body so cold,
no fire can warm me but poetry." –Emily Dickinson
no fire can warm me but poetry." –Emily Dickinson
aku tidak ingat sudah membangun
berapa rumah di dalam puisi. suatu hari
nanti barangkali kita akan kembali ke sana,
sekadar untuk melihat dan mendengar bagaimana
film dan musik-musik diputar kembali (?).
luka yang sulit memaafkan tempat lain,
kegelisahan angan yang bersikeras memohon
ingin. terlalu banyak kenangan. rahasia dan
petualangan. di perjalanan panjang ini, kita
memang tak mudah mendapatkan jawaban,
atau di banyak kesempatan yang kita butuh
cuma keajaiban. keajaiban. dan keajaiban.
untuk membuat segala hal yang penuh dera
menjadi reda, yang berisik tidak membuat diri
terusik, begitu juga semua culas tertidur pulas.
aku tidak ingat sudah membangun
berapa rumah di dalam puisi. atau yang kuingat
hanya persoalan bagaimana selama ini diri kita
menyaksikan kehidupan menimang-nimang
tubuhnya sendiri sambil berkata:
"ah, tidak masalah merasakan resah. toh rasa
sakit sering kali menjadi alasan bangkit."
kita akan pulang, membawa semua alasan
dan banyaknya peristiwa penting untuk dipajang
di rumah. dan seperti biasa, jika ada banyak hal
bisa berubah menjadi puisi, maka suara-suara
(masih) tidak lebih penting ketimbang sunyi.
2024
________________________________
berandai-andai
kapan kiranya di suatu pagi
kita menemukan tangan kita
sepasang sayap yang siap
membawa kita untuk terbang.
kita bangun. kita selalu berusaha
untuk bangun. sembari sesekali
mengasihani diri sendiri. tidak ada
tempat yang bersedia menampung
kita selain kesedihan. ia barangkali:
pengungsian terakhir, sebelum saling
antri untuk mendapatkan jatah semangkuk
kebahagiaan dan minuman pereda nyeri.
kita berandai-andai. membayangkan
bagaimana surga penuh dengan keindahan—
kita bayangkan bagaimana dunia ini sudah
merenggut hal-hal yang mungkin menjadi
milik kita seutuhnya, di saat rasa sakit
yang susah payah kita huni.
2024
________________________________
peristiwa-peristiwa penting
1) sudah seberapa sering kita menyaksikan kesedihan dan kebahagiaan silih berganti memakai tubuh kita?
2) ketika keponakanmu yang lugu dan lucu menangis di hadapanmu karena sebab tertentu—sembari mengelus-elus dan menenangkan—adakah kau melihat diri mereka sebagai dirimu sendiri sambil berkata, "cup cup cup. sudah, ya, sayang." kemudian dalam hatimu: sial, dunia memang kejam!
3) adakah yang terluka karena diriku? apakah aku banyak melukai? semoga saja tidak. atau bila ada, berulangkali aku akan meminta maaf agar puisi ini bisa terus berintrospeksi pada dirinya sendiri.
4) seberapa sering kita memaklumi dan mengabaikan luka sendiri agar bisa mendengar jeritan luka orang lain?
5) kita setiap hari melihat dan mendengar handphone kita. begitu banyak kejadian bangsat di dunia. andai penderitaan bisa berubah menjadi batu agar bisa dilempar ke lautan lepas. aku masih musim pancaroba. kadang-kadang: kita bukan sesuatu yang kita kenal sebagai kita.
6) kesedihan senang memakai tubuh kita sebagai perhiasan, sedangkan kebahagian memilih memakainya sebagai perabotan rumah.
7) bisakah kita hidup tanpa adanya rintangan dan cobaan? bisakah sesudahnya kita senantiasa menjadi diri sendiri?
8) sebenarnya kehidupan seringkali membisikkan sesuatu: aku mencintaimu. itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu, katanya.
9) semua cepat basi. mari sama-sama menunggu agar bisa mengulang banyak hal di tahun berikutnya lagi.
2024
________________________________
suatu hari nanti
suatu hari nanti kita
akan pergi bersama.
pantai. ombak yang tak
pernah berhenti menulis puisi
dan pantang menyerah.
akan selalu kuingat
bagaimana waktu senantiasa
mempermainkan kita.
suaramu kicau burung
menukik ke dadaku. ibu kota-
nya sama seperti namamu.
akan senantiasa kuingat, begitu
pula usahaku untuk terus menanam-
kan dan mengingat-ingat suara ibu.
selamanya kita berusaha bangkit
untuk terlepas dari belenggu luka masa
lalu yang pernah menjadi rumah kita.
setiap hari kita berangkat
agar lekas sampai
pada sesuatu yang selamanya
indah—yang kita tahu bangunannya
adalah masing-masing dari nama kita.
2024
________________________________
angin dingin membawa kita pada pelukan
jika nanti angin yang dingin membawa
kita pada pelukan. aku ingin menjadi
microwave di rumahmu dan kau menjadi
selimut tebal usang di kamarku?
hari ini cinta tersenyum, sebab keberadaannya
masih mampu menopang kaki-kaki manusia
sedemikian jauhnya. meski ketakutan-ketakutan
masih sesekali memenangkan isi kepala, beberapa
sudah ditenangkan dengan seksama. ingatkah,
kapan terakhir kali kita menangisi hal-hal lain;
makanan yang lezat, pemandangan yang cantik, dan
menyadari bahwa bulan adalah bulatan takoyaki
yang menggoda untuk kita santap malam ini.
parfummu tidak kalah sibuk dengan pedagang-
pedagang di kanan-kiri kita, juga jantung kita
yang tak kalah girangnya untuk saling memompa.
jika nanti angin yang dingin membawa
kita pada pelukan. adakah masing-masing
dari kita siap menjadi pepohonan yang
selalu merindukan hutan?
kau sesekali menggerutu, sebab keinginan
bertemu tak selalu berhasil ditenangkan dengan
video call yang ada di handphone-mu itu, meski
notifikasi-notifikasi berhamburan menenangkan:
di mana hati berpijak.
di situ cinta dijunjung.
hatimu mengembang seperti adonan kue,
dan kita lihat sekali lagi, puisi-puisi selalu
mahir menjadi seorang penyihir dan kita
merelakan diri untuk tinggal di dalamnya.
2024
________________________________
"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu."
Kalimat di atas merupakan penggalan sebuah puisi yang berjudul "Dalam Doaku" karya Sapardi Djoko Damono.



Komentar
Posting Komentar