Kemarilah, Kubacakan Puisi


Kau adalah dua kaki yang menyeimbangkan raga.
Yang menopang dan membantu berjalan setiap waktunya.


Suatu hari, di saat angin bergurau dengan riangnya. Daun-daun berjatuhan ke sisa hujan semalaman. Huruf demi huruf menjelma daun merapat ke kenangan. Sementara tanda tanya masih terus saja menggoda nalar dan hati. Ada yang tak sanggup ditinggalkan saat engkau pulang ke kediaman. Ada yang tak ingin berjarak walau sejatinya engkau bukan sepenuhnya menjadi milik.

Ketahuilah, entah berapa kali aku menuliskan sajak-sajak untukmu. Hingga saat ini sudah menumpuk penuh di buku-buku yang mulai usang; menanti kehadiran wanitanya. Ada satu tarikan yang menuntun menuju cahaya itu, renjana-nya mulai memuncak saat senyum manis melintas di mata.

Dari jarak kita memahami sesuatu, bahwa dia bukan melulu soal bentangannya. Ada yang lebih magis dari itu. Sayup-sayup terdengar dari segala penjuru, beberapa kenangan begitu sibuknya diputar. Oleh siapa? Entah. Yang merontokkan jarum jam, yang mulai menggetarkan wajahnya.

"Kemarilah, maukah kau kubacakan puisi yang sudah lama tak terdengar riang lagi?"

Pada detik dan detak ke sekian, kita tengah mencoba terbiasa dengan sesuatunya. Namun lagi-lagi ada yang tak sempat atau memang tak akan dapat. Di ruang kedap suara yang dihiasnya sedemikian rupa, diam-diam dengan penuh dendam sedang menantikan penghuninya.

"Kemarilah, maukah kau kubacakan puisi yang sudah lama tak terdengar riang lagi?"

Dengarlah. Kita terhubung oleh makna yang tak ditangkap mata. Kita terselubung oleh rasa yang tak sanggup lagi berkata-kata. Tuhan sedang melihat bagaimana usaha-usaha yang kita lakukan. Juga atas doa-doa yang senantiasa terpanjatkan. Tuhan itu Maha Tahu, tapi menunggu.

Hati kita adalah semesta. Kau dan aku adalah penghuninya. Aku membuat sungai menujumu, dari pekarangan hatiku. Yang terbuat dari arus kasih sayang, yang tak harus dibalas jua. Tapi akan terus saja mengalir. Sempurna.

Telah kuizinkan kau masuk ke hati. Tanpa kau ketuk; sebelum kau menunggu di beranda untuk mengetuk. Datang dan masuklah. Tak usah ragu, tak usah malu-malu. Sebenarnya kau sudah ditunggu-tunggu.

Bukan rahasia lagi, puisi-puisi itu tengah menanti. Rindu dibacakan di hadapanmu, lagi-lagi rindu pada senyum dan lesung pipi itu. Yang meruntuhkan pertahanan diriku.

Kita adalah semesta rasa
Yang ikut menyulut beberapa perkara
Yang membubung ke langit
Yang elok rupanya
Yang berhamburan ke mana-mana

Sisa-sisanya
Kemudian tumbuh begitu manisnya
Minta dijaga dan dihiasi olehmu
Agar nantinya; aromanya
Membuat abadi perasaannya.

Kemarilah, kubacakan puisi. Dengan segala rahasianya  yang menepi menuju hati.

Komentar

Postingan Populer