Yang Sibuk Mengeja


"Siapa yang paling sibuk mengeja di dunia ini?" Tanyamu dalam sebuah perjumpaan sederhana di waktu paling rahasia.

Manusia yang paling sibuk mengeja dan akan selalu disibukkan untuk mengeja. Tanpa ragu dan tanpa terbata-bata ku katakan padamu. Kita akan selalu mengeja setiap waktunya, detik demi detiknya.  Karena semesta tak akan memberi tahu jawabannya padamu pun kepadaku, kita dituntut untuk melihat semua. Melihat setiap perkara-perkara yang melintas di hadapan kita.

Kau terdiam. Seolah tiada tanda-tanda sanggahan atau sengaja berdiam untuk mencari kesempatan melawan. Tapi tak kau lakukan.

Di dunia ini kita akan sibuk mengeja semuanya. Hingga nantinya benar-benar akan terangkai dan bisa terbaca. Tapi sampai kapan? Mungkin begitu tanyamu nanti. Sampai semuanya benar-benar utuh, menjadi kalimat yang mampu menjelaskan segala perihalnya. Manusia akan mengeja sesuatunya menurut mereka, pandangan mereka. Mengeja yang mereka butuhkan untuk dibaca. Hingga nantinya mendapatkan jawaban atas apa yang selama ini dipikirkan. Hendak mereka ketahui.

Jika ku bertanya demikian, "Apakah hal ini akan begitu rumit?"

Kau menjawab tanpa keraguan. Dan aku menyukai itu. Kau bilang semua akan terasa rumit untuk mereka yang tak ingin belajar untuk memahami sesuatunya, seolah-olah semua nampak begitu membingungkan. Semacam kutukan. Kita diberi akal untuk mencoba melihat dan belajar mengeja. Kita diberi hati untuk memahami yang tak bisa dijangkau oleh yang lainnya. Tuhan memberikan itu semua tidak untuk disia-siakan.

Giliranku yang terdiam. Memandangmu lekat-lekat. Bukan untuk mengeja, karena semuanya sudah terbaca. Huruf-huruf  itu telah terangkai begitu rapinya membentuk kalimat yang jelas. Kau bukan untuk dieja, kau kecantikan yang seutuhnya. Telah ku baca itu semua, semesta pun menyetujuinya. Hatiku bergejolak. Dan lagi-lagi ini menjadi rahasia di waktu paling rahasia.

Perjumpaan itu menjadi sakral. Dan masing-masing dari kita pasti mengeja ini semua. Sampai nanti benar-benar bisa terbaca oleh kita.

"Bagaimana jika seseorang salah mengartikan yang diejanya?" Tanyamu sebelum percakapan ini usai

Mungkin ini hanya perihal waktu. Kita tidak bisa tergesa-gesa mengartikan semuanya, yang lantas membuat kita merasa semua ini hanyalah sia-sia. Mungkin cara kita yang salah mengejanya. Atau mungkin niatnya tak sebegitu kuatnya. Kita memiliki wewenang untuk hal itu, tergantung bagaimana kita sendiri. Nampaknya semua orang harus mulai untuk memikirkan ini.

Lagi-lagi kau terdiam. Mungkin sedang mengeja sesuatunya. Dan aku tak akan menyudutkanmu. Biarkan menjadi milikmu.

Hingga perjumpaan itu usai, ada rahasia yang tetap terbawa.


Kalimat tanya apa yang tepat
Siapa atau apa
Yang ingin disibak
Yang ingin diungkap

Mengeja bukan berarti memisahkan
Satu kata dengan yang lainnya
Hanya saja untuk memudahkan
Membaca satu demi satunya

Hingga semuanya melatih diri
Sebelum benar-benar terbuka
Akan tetap menjadi rahasia
Yang menanti untuk dibaca.

Komentar

Postingan Populer