Menangislah, Tak Mengapa
Menangislah. Tak mengapa. Kau bukan lemah, ada kalanya titik itu hadir. Nurani yang selama ini kau rawat, perasaan yang begitu bersikeras untuk menguat, akan menemui nadir. Sekali lagi kuucapkan padamu, tak mengapa. Kita hanya manusia dengan berbagai pelik yang kita punya.
Tak bisa terelakkan, lagi-lagi kita memang tak sempurna. Kadangkala diri menjadi medan perang, bukan? Antara nalar dan nurani kita. Yang saling menusuk-nusuk dan saling berebut untuk mencari kebenaran mana yang sepatutnya. Ceritakan resahmu, kau tak sendiri.
Ada yang sedang menggoyahkan hatimu, bukan untuk melemahkan. Yakinlah, ini hanya ujian, untuk melihat seberapa sanggup kau menguat. Bahwa perkara-perkara hidup ternyata menjadikanmu manusia seutuhnya.
Tak bisa terelakkan, lagi-lagi kita memang tak sempurna. Kadangkala diri menjadi medan perang, bukan? Antara nalar dan nurani kita. Yang saling menusuk-nusuk dan saling berebut untuk mencari kebenaran mana yang sepatutnya. Ceritakan resahmu, kau tak sendiri.
Ada yang sedang menggoyahkan hatimu, bukan untuk melemahkan. Yakinlah, ini hanya ujian, untuk melihat seberapa sanggup kau menguat. Bahwa perkara-perkara hidup ternyata menjadikanmu manusia seutuhnya.
Nalar terkadang berbisik, memberikan pernyataan-pernyataan untuk menyerah. Namun tentu saja kita tidak ingin kalah(?). Ya aku tahu, kau hanya lelah. Maka di titik itu, tangisan menjadi luapan emosimu. Tak mengapa.
Keresahan bercokol dalam diri kita sebagai kutukan yang tiada habisnya. Bahwa kesedihan, tangisan, kita yakini bukan puncak dan akhir dari perjalanan. Merenung, memikirkan, dan melangkah kembali adalah sebuah upaya menjadi pribadi yang lebih baik.
Tak apa untuk mengiyakan, bahwa terkadang kita memang sedang tidak baik-baik saja.
Tak apa untuk membenarkan, bahwa di sebuah titik tertentu - pelik yang ada ingin meledak di kepala.
Seseorang memiliki ketakutan masing-masing, yang terkadang membuat dirinya semakin terasing. Maka setelah hal itu, tangisan bisa pecah. Pertahanan-pertahanan diri yang selama ini dibangun menjadi runtuh. Langit-langit hati berubah gemuruh.
Namun cukupkan hal itu, jangan terus merapuh.
Jalan-jalan akan terbuka, lika-liku akan menemui ujungnya. Untuk kita yang berusaha pulang. Pada sebuah tempat yang seharusnya. Pada sebuah penyelesaian yang akan meringankan dan mengakhiri keresahan.
Tangisan-tangisan pecah
Memeluk erat kata resah.
Semakin terhunus saja
Kita oleh pedang kesedihan.
Sementara itu, upaya
Untuk menepis belum terkikis.
Dari nalar dan hati
Yang berdamai mencari jati diri.
Penyelesaian terkadang datang
Ketika jiwa hampir meratap
Dan merapat pada
Keputusasaan.
Pada akhirnya
Kita sepakat untuk tetap
Berdiri. Menantang dan melewati
Setiap duri.
Menguatlah. ^_^



Komentar
Posting Komentar