Ada Museum di Tubuhmu
![]() |
| Henn Kim |
*untuk kota J dan setiap jengkal perjalanan
_______________________________
KEBERANGKATAN
Mulailah melakukan perjalanan ini.
Mereka yang masih asing, usang di
Benak dan belum juga dikunjungi
Oleh mata dan kata-kata.
Menanti hari-hari keberangkatan.
Yang sabar. Berdebar. Seperti buruh
Penyadap getah karet yang mengalungkan
Waktunya di lehernya sendiri.
Atau keselarasan, sekilas mirip
Seperti percakapan-percakapan yang
Bercinta sepanjang perjalanan. Di batas
Kata-kata sebelum benar-benar tiba.
Kota yang diperbincangkan dari
Mulut ke mulut. Sejarah mencatat
Dan mencantumkan namanya di
Setiap arah pemikir. Ukir.
Dan mencantumkan namanya di
Setiap arah pemikir. Ukir.
2020
_______________________
MENEMUKAN RUMAH
*menulis kopi di kedai puisi
Di meja ini, kau tahu ada segelas
Ketenangan yang kedinginan dari
Semalaman suntuk memikirkan
Dan memarkirkan hatinya yang
Bingung mencari ujung.
Kau tenggelam. Di dasar puisi
Buatanmu sendiri. Membiarkan air terjun
Mengalir deras menuju dadamu.
Membawa bias dan menciptakan
Lengkungan pelangi di matamu.
Sementara itu hujan bergegas pergi
Semenjak mengetahui kenangan
Sedang pamit sebentar ke arah lain.
Tanaman-tanaman rimbun dan ikan-ikan
Di kolam menunggu diberi makan.
Atau setiap penghuni rumah,
Menyanyikan nada-nada yang
Membuatmu merasa pulang.
Tidak bisa diputuskan begitu saja
Di mana kau bisa menemukan Rumah.
Seperti halnya kabut dan gunung,
Yang belum tentu memiliki keinginan
Sama untuk selalu berada di atas sana.
Sementara itu hujan bergegas pergi
Semenjak mengetahui kenangan
Sedang pamit sebentar ke arah lain.
Kau senang bukan main. Begitu pun
Dengan seekor musang yang mendapat
Kediaman baru. Dan kopi. Yang menawarkan
Puncak kenikmatan di lidah siapa saja
Yang dipilihnya.
2020
_______________________
SESAAT SEBELUM MATAHARI BENAR-BENAR BERSINAR
(1)
Di tubuhku sendiri, tempat pantai
Bersemayam. Atau ombak yang mendobrak
Karang-karang di dekatnya. Meluruhkan
Suasana di perbatasan.
Kutulis puisi ini sesaat sebelum
Matahari benar-benar bersinar
Di tempat itu.
Aku tidak ingin atau tidak sungguh-sungguh
Melupakanmu. Atau tidak akan. Sudah hening
Suasana, sebentar saja. Aku mulai melakukannya
Lagi: termenung. Dan lagi.
(2)
Kurasai seperti berada di
Tempat yang tak asing. Kita sebut itu pantai.
Yang menjadi tempat memungut cerita
Semasa kanak-kanak.
Setiap hari adalah kekasih yang
Tak sanggup menghabiskan kata-kata.
Atau merapalkan mantra-mantra
Selamat tinggal.
Atau kedua kawanmu. Yang menjatuhkan
Tubuhnya di kanan dan kiri di mana
Puisi berceceran. Sebelum kau pungut
Dan dituliskan ulang.
(3)
Hatimu adalah kapal yang karam.
Ada celah di sisinya. Minta diperbaiki
Dan dibenahi sudutnya yang menganga.
Oleh siapa, entah juga.
2020
_______________________
MENJADI TAMU
: Kediaman R
Aku akan menemanimu
Menikmati kopi di beranda rumah.
Memandangi pepohonan. Membayangkan
Daftar menu di dapur sendiri.
Kukenakan tubuhmu
Sedang aku mempersiapkan diri
Menjadi yang sepatutnya.
Aku menjelma hutan
Di pinggiran rumahmu.
Sungguh, kupandang lebat menuju
Arahmu. Menawarkan angin.
Dan kau tahu. Seberapa pun nikmatnya
Aku tetaplah tamu. Tinggal adalah
Kata yang tidak pernah merapat.
Barangkali begitu. Ya, ya, sepertinya.
2020
__________________
ADA MUSEUM DI TUBUHMU
Ada museum di tubuhmu
Minta dikunjungi dan dilengkapi
Segala macam kenangan dan sejarah.
Suasana dan kata-kata.
Sebelum tiba
Sudikah kiranya kubawa namamu
Sebagai kuncinya.
Astaga! Jangan kau bisiki
Dulu apa-apa dan bagaimananya.
Sebentar saja, aku sudah berdiri di
Hadapanmu lagi.
Maksudku, angan-angan yang ingin.
Di dalamnya, yang bisa lebih teratur
Daripada hukum. Atau sebaliknya.
Berantakan seperti sebuah kecelakaan.
Jika kau museum
Aku adalah isi di dalamnya
Bolehkah? Sudikah?
2020
__________________



Komentar
Posting Komentar