Ruang Sepi
MEMANDANGMU SEBAGAI CAHAYA
Buku harianmu telah usang, namun kata-kata
Di dalamnya tak pernah hilang. Ia terbang.
Memenuhi ruang dan semesta
Pikirku; yang menghuni sebagai tuan.
Sebagai pemilik, haluan—jalan.
Memandangmu adalah cahaya, sedang jatuh
Cinta merupakan kata kerja yang sesungguhnya.
Semenjak itu, kau tahu bahwa hati hanya
Dilunakkan dengan cinta. Seperti pandai besi
Mengolah peralatannya sendiri.
Sementara kau menjadi cahaya, aku adalah
Jalan malam yang gelap, memelas
Terangmu. Kita tidak bisa memanipulasi,
Bahwa menjadi seorang pencinta adalah mereka-
Mereka yang siap untuk menderita.
Cinta, dan kata-kata lain yang membuntutinya
Kini dianggap seperti permainan. Seolah-olah
Menjadi sasaran empuk sebagai bahan
Candaan. Sungguh, kita tidak akan mengambil
Bagian itu. Tidak, sedikit pun.
2020
___________________
Jika kau berpikir, bila kesendirian
adalah hal yang beracun. Maka biarkan
dirimu termakan olehnya, sejadi-jadinya
di musim yang malamnya telanjang kedinginan.
Serasa angin mengisah perihal masa
lampau lagi, di telinga yang mulai tuli, lika-liku
jalanan, sepasang spasi di perempatan besar
tempat membeli martabak telur, juga hal-hal yang
membuat babak-belur, termasuk intisari: kau sendiri.
Bila malam adalah sebilah pisau
Hujan adalah tajam yang membunuh
Perlahan reruntuk tubuhku.
Pengelana atau perantau atau apa saja yang
menyangkut itu, mengapa pula diperdebatkan. Sementara kakinya sebagai lelaki sedang diuji. Kepulangan yang menjadi akhir, atau seperti
Dendam, yang enggan hilang sebelum tuntas terbalaskan.
2020
___________________
JALANAN LENGANG
Seperti yang ingin aku tuliskan
Di awal sajak ini. Masa lampau. Menjelma
Burung-burung gereja yang selalu
Membangunkanku setiap hari.
Maka kakiku mendadak menjadi seorang
Pelancong. Begitu, senantiasa.
Jalanan dan tempat-tempat lain seperti
Pasar malam yang ramai hanya
Sesekali. Selepas itu sunyi. Lengang.
Sebentar-sebentar bahagia, selebihnya
Berduka. Ya, ya, selebihnya.
Di waktu hampir mengarah pukul lima sore.
Sajak ini masih belum rampung. Jalanan tadi
Memutuskan menjadi aku. Katanya.
Setelah beberapa saat kusadari ternyata
Benar begitu. Sial.
Tidak ingin rasanya aku menyelesaikan
Bila dianggap seperti remaja
Mengalami cinta monyet.
Lantas kutemui akhir bait ini di sela-sela
Angin. Suara yang menyerupai dirimu:
Jangan menjadi gila, ucapnya kala itu.
Maka jika benar itu sebuah pesan. Kurasa
Aku harus benar-benar memerhatikan.
2020
___________________
PAGI YANG MENDUNG
Mendung menyeret pagi
Menuju murung. Hujan
Titik demi titik berjatuhan
Dari atas sana.
Membawa beban yang
Ditimbunnya. Meruntuhkan.
Diusap-usapnya rambut kepala
Seperti sepasang pohon yang daunnya
Ikut berdesir. Kenangan. Adalah
Wajah ibu. Ditiup-tiupkannya
Ke ubun-ubun, dipaksanya masuk
Menuju tempurung. Pagi yang mendung.
Cahaya matahari bersembunyi. Urung
Menembus, dan menghunus. Di kaki
Yang penuh sunyi, parau mendengar
Suaranya sendiri.
2020
___________________
MASA LAMPAU
Dan masa lampau. Mengecup
ingatan yang kering di batas kata-kata,
nuju detak jantung. Kenangan
menjadi rumah yang diketuk
pintunya, jendela terbuka, dan angin
menghuni sebagai kisah dongeng.
Kesedihan yang semalaman
menindih tubuh. Dan kedua
bola matamu, dinding sebagai
batas ketidakmampuan juga
ketidakwarasanku. Dalam hening,
yang bahasanya tak dimengerti.
Kau, atas nama kepergian:
memisahkan.
2020
___________________



Komentar
Posting Komentar