Merapat Aksara Demi Aksara
Sebenarnya yang mesti menukik tajam itu apa sih? Sebenarnya yang membuat perasaan jadi begini rumitnya itu siapa ya? kok gini-gini amat. Maksudnya? Belum juga lama aksaranya, udah disuguhi pertanyaan filosofis begitu. Oh iya, maaf. Lupain dulu.
Belum jelas mana yang benar-benar menjadi jawabannya. Coba dongeng dulu kek, kayak biasanya. Bawel.
Kok ya bisa-bisanya perasaan dibuat random sedemikian rupa, yang diciptakan dalam sepasang, yang dihembuskan lewat ubun-ubun, yang sebenarnya apa iya antara keduanya, atau salah satunya saja. Lah, kok malah nanya. Gak paham.
Dan kenangan. Dan juga kenangan. Dan lagi-lagi dan selalu juga berdempet dengan kenangan. Yang membasuh di kepala serupa air. Maksudnya kalau tidak benar-benar kering, ya jelas masih ada dan berbekas. Yang sebenarnya terus saja mengalir tanpa letih dan sebening-beningnya untuk terus turun di nun jauh di sana.
Sial. Dan kenang masih saja tidak mau bersih sebersih-bersihnya, terus ada, masih mau ada, yang entah dimana tersangkutnya di setiap sudut dan sekeliling tempurung kepala.
Nah gitu
Apanya?
Dongeng dulu
Kan udah
Udah? Gitu doang?
Jadi... Maunya apa? Mau denger kalau i think i love you?
Alah, gombal
Hehe.
Sebenarnya yang mesti menukik tajam itu apa sih? Sebenarnya yang membuat perasaan jadi begini rumitnya itu siapa ya? Ya kamu dulu gimana, kok bisa begitu. Aduh, repot yang mau bilang. Pernah nggak sih kita ini berpikir bahwa sebenarnya kita ini... Mmmm... Termasuk yang susah juga bersatunya. Beda dari segi ini, itu, yang mumet juga kalau dipikir. Hmmmm.
Duh, awal mula disusunnya kenangan ini gimana sih? Tau-tau kok sudah penuh di kepala. Nggak ada registrasinya dulu kek, atau apa. Biar persiapan gitu, biar nggak kaget, biar... Ya biar, ya biar, ya biar sambil adaptasi.
Merapat pula aksara demi aksara, alinea demi alinea, kata demi kata yang dari tadi saling susun bersusun menjadi terhubung. Semampunya berusaha menjelaskan. Atau malah semakin membuat bingung dan tak karuan tafsirannya.
Jadi, yang mesti menukik tajam itu apa? Terus yang membuat perasaan jadi begini rumitnya itu siapa? Entahlah, tau-tau udah jadi kayak gini. Saling berpikir aja. Tapi bener, i think i love you. Eh, dulu ya. Sayang banyak perbedaan. Sekarang? Mmmm..... (tak ada terusan).
Mau puisi nggak?
Coba
Sebermula adalah kita
Sungguh, tanpa jeda
Yang purba kerinduannya
Di sela-sela tempurung kepala
Sebermula adalah berbeda
Sungguh, tak bersisa
Yang tanda tanyanya
Lebih rapat dibanding tanda serunya.
Artinya apa?
Ya coba dipikir, masak iya aku terus yang ngasih tau.
____________________________
S U K S M A
Duh, awal mula disusunnya kenangan ini gimana sih? Tau-tau kok sudah penuh di kepala. Nggak ada registrasinya dulu kek, atau apa. Biar persiapan gitu, biar nggak kaget, biar... Ya biar, ya biar, ya biar sambil adaptasi.
Merapat pula aksara demi aksara, alinea demi alinea, kata demi kata yang dari tadi saling susun bersusun menjadi terhubung. Semampunya berusaha menjelaskan. Atau malah semakin membuat bingung dan tak karuan tafsirannya.
Jadi, yang mesti menukik tajam itu apa? Terus yang membuat perasaan jadi begini rumitnya itu siapa? Entahlah, tau-tau udah jadi kayak gini. Saling berpikir aja. Tapi bener, i think i love you. Eh, dulu ya. Sayang banyak perbedaan. Sekarang? Mmmm..... (tak ada terusan).
Mau puisi nggak?
Coba
Sebermula adalah kita
Sungguh, tanpa jeda
Yang purba kerinduannya
Di sela-sela tempurung kepala
Sebermula adalah berbeda
Sungguh, tak bersisa
Yang tanda tanyanya
Lebih rapat dibanding tanda serunya.
Artinya apa?
Ya coba dipikir, masak iya aku terus yang ngasih tau.
____________________________
S U K S M A



Komentar
Posting Komentar