Bagaimana Jika Kau Menjadi Puisi?


Bagaimana jika kau menjadi puisiku?
Bait demi baitnya kubaca dirimu
Dari awal hingga akhir
Letih tak mengapa

Musik yang kau dengar
Dapatkah menjelma suaraku
Yang sedang membaca jejak-jejak
Senandung, rima, yang syahdu

Berawal dari sebermula
Berakhir pada sebuah muara

Bagaimana jika kau menjadi puisiku?
Huruf demi hurufnya kurangkai
Yang terselubung dalam perangai
Pungut memungut kian merasuk

Hingga pada jawabnya
Semuanya tengah bersepakat
Menuju pada sebuah keselarasan
Rintik waktu dalam benakmu
_________


Tak ada yang sanggup menjadi puisi
Selain dirimu, ucapnya

Yang awalnya hanya hitam dan putih saja
Hanya diam tak berkata-kata
Kemudian datang dirimu; yang membubuhkan
Warna. Pada aliran sungai, pada gunung-gunung
Yang menjulang, pada jalan-jalan, pada cakrawala
Pada harapan bianglala, pada semesta.

Yang kemudian entah mengapa
Memberikan tenaga pada tubuhnya
Mengalir pada darah dan memompa jantung
Yang memunculkan hening, debar dadanya

Jangan kau kirim dulu lesung pipi itu
Padaku, Mohammad Jumhari
Ada langit yang terus runtuh
Aku sungguh-sungguh

Walau hanya sekilas saja
Tapi telah mampu mengusik kepalanya
Masih belum siap: tunggu dulu!

Tapi....
Sekali lagi ku katakan padamu
Aku, yang menjelma rintik waktumu
Bagaimana jika kau menjadi puisiku?

Komentar

Postingan Populer