Di Beranda
Kita duduk, berdua saja di beranda kesayangan kita. Memandang lekat-lekat semesta di hadapan kita. Tenang, damai. Disertai dengan secangkir kopi buatanmu-untukku, dan teh untukmu sendiri, juga sekaleng biskuit Roma Kelapa yang begitu cerdas daya pikatnya. Yang tidak henti-hentinya kita celupkan mereka ke masing-masing cangkir kita, sesekali bergantian pula. Yang terkadang remah-remahnya tenggelam di dasarnya, tanpa pernah kita mempedulikannya.
Menatap ke arah yang sama. Berdua saja. Tidak ada habis-habisnya memikirkan hal-hal yang membuat kita ada, darimana asal-muasalnya. Tapi kiranya, apa perlu kita memikirkan itu semua. Kita masih sama-sama terdiam melihat ke arah yang ada di depan kita, kata-kata masih sembunyi saja dalam benaknya. Hingga tik-tok jam-nya memberi suara di sela-sela.
Kamu mencintaiku, bukan?
Ya, ya, Sayangku. Aku tahu itu.
Pernahkah kamu berpikir, bahwa ternyata kamu adalah aku. Dan aku, sepenuhnya adalah dirimu.
Ya, ya, Sayangku. Aku tahu itu.
Ada lagi?
Ya, ya, Sayangku. Aku tahu itu. Kita adalah dua-walau sepenuhnya adalah satu. Kamu ya untukku saja, dan aku juga ada karena ada dirimu. Hingga debar kita sama yang saling memompa jantung-jantung kita.
Jadi, begitu
(Terdiam saja)
Dan kita masih saja di beranda itu. Memandang langit yang tadinya biru hingga berubah menjadi merah, yang semburatnya menyala-nyala di mata kita. Aku menyaksikan taman di depan pekarangan, menyaksikan semesta. Dan merenungi semesta-semesta lainnya yang terkunci oleh kemauan kita, dalam hati yang tak mau dipisahkan suaranya.
Pada suatu hari yang baik nantinya, tentunya kita tak ada lagi, bukan? Tak mengingat detak jam yang bergema di telinga, tak mengingat jalan-jalan yang menuju pada siapa, apa, dan dimana kita. Tak mengingat lagi huruf-huruf yang ramai memperbincangkan tingkah laku kita, tak mengingat lagi susah payahnya membangun sebuah semesta.
Yang tak lagi menyaksikan musim-musim, menyaksikan ranting-ranting yang terjatuh dari pohonnya, menyaksikan bunga-bunga yang elok rupanya, menyaksikan cakrawala dan bianglala yang indah warnanya, menyaksikan gerimis yang melambai kediaman, menyaksikan aliran sungai yang gemericik, menyaksikan udara yang tak ada warnanya, menyaksikan kita.
Akankah kita benar-benar melupa? Atau segenap anggota tubuh kita akan(kah) kembali membisikkan puisi-puisinya. Apa itu, puisi? Apa suara-suara yang saling bersahutan menujumu, hingga membentuk semesta-nya sendiri (?). Maka itulah sebabnya, kamu ada dalam diriku dan aku ada dalam ruhmu. Eitss... Tapi tunggu.
Tidak begitu?
Tidak!
Bukan?
Bukan!
Mengapa kamu membentakku? Lalu bagaimana pula?
Kita ya kita, hanya satu
Baik, Sayangku. Aku paham itu
(....)
Pada suatu hari yang baik nantinya, tentu kita tidak ada lagi, bukan? Tapi tidakkah kita yakini, kasih sayang yang sudah dikenal semesta ini akan membentuk ruh dan tubuh kita kembali di saat yang kekal.
Benarkah begitu?
Ya, ya, Sayangku. Kasih sayang yang cerdas itu tidak akan membiarkan kita menjadi asing kembali, menjadi dua raga yang tak saling mengenal lagi. Yakinlah.
Aku putar daun pintu rumah, dan kamu membuntuti dengan cangkir-cangkir kosong itu. Kita masuk di dalamnya, dengan kasih sayang yang tak pernah luput meronta minta dijaga dengan sebaik-baiknya, setulus-tulusnya oleh nalar dan hati kita.
Aku paham, Sayangku. Ya, ya, begitu.
Aku paham, Sayangku. Ya, ya, begitu.



Komentar
Posting Komentar